Rabu, 06 Oktober 2010

Sensitif

Sensitif.
Satu kata yang menggambarkan hari ini. Selain hidung saya yang sensitif terhadap bau tajam, debu, dingin dan jadi bersin-bersin, nggak tau kenapa hal-hal kecil hari ini jadi kerasa besar, bikin emosi...

Actually nggak seharian ini saya jadi muarah-muarah, masih bisa ketawa-ketiwi bareng temen di kampus... tapi beberapa hal membuat sore hari saya yang sepi ini menjadi galau (tsaelah.... bahasa masa kini).

Beberapa hal nan sungguh sepele, seperti : Paketin tas sama baju kakak ke Semarang lewat post, pas ke kantor post, semua masih baik-baik aja. Sampai saya bayar biaya paket yang ternyata Kilat Khusus itu sebesar 25.000, saya jadi merasa, "Ih mahal amat, kagak ada yang murahan dikit ape?"
Tapi bukannya saya nanya ke mas penjaga loket dan meminta alternatif yang bukan kilat khusus, saya malahan menyimpannya dalam hati aja. Gengsi. Mungkin... cuma 25.000 inih, tapi karena pengaruh hormon kali ya, saya nggak rela gitu ngeluarin duitnya, meski udah kebayar juga itu duit.
Makanya saya langsung sms kakak saya, yang jikalau sms itu ada suaranya pasti suaranya udah sinis gitu, "25.000 tau, siapa yang nanggung nih?" Doi membalas, "Yang nggak usah kilat khusus aja..." Eh saya dengan sekenanya membalas, "Udah terlanjur, kamu transfer ke aku 25.000..." Untung kagak ditambah kata-kata "Nggak mau tau!!!"

Hahah, demi apa deh saya minta ditransfer duit 25.000? padahal kan itu bukan jumlah yang besar banget juga, padahal kan dia saudara kandung saya sendiri? kakak saya satu-satunya? *lebai
Apakah PMS membuat seorang remaja menjadi sangat perhitungan soal uang? Kayaknya perlu dibuat penelitian ini.

Lalu, lalu, lalu, blazer yang saya pesan dari sebuah online shop datang. Horeeee!!!! Pas dibuka, waw....lucu.....eh tapi kok gede amat ukurannya? Ckckck.... saya pun dengan sejuta kreativitas (weks) menjahit bagian dalam lengannya sedemikian rupa, et voila!! sudah tidak terlalu kegedean bak blazer almamater atau jas lab saya. Lumayan, meski agak nggak sreg juga pada beberapa titik, huh karena hormon lagi?

Rasanya tidak adil jika mengkambinghitamkan si hormon dalam kesensitifan kita, tapi manusiawi lah kalau kita nyari-nyari siapa yang salah dalam segala masalah kita, sekalipun itu ciptaan Tuhan tak berdosa: hormon.

There's a good quote for me:
"It's not the situation, it's your reaction to the situation." by Robert Conklin.
Okay, I just too much react.

Saya kayaknya perlu memilah-milah mana yang penting buat dipikirin, dan mana yang nggak perlu. Don't let the small thing grows big, play it cool Za!

0 komentar:

Posting Komentar